Emosi yang Dipendam akan Selalu Kembali Menagih

Tagihan muncul kapanpun tanpa pemberitahuan awal. Pertanyaannya, apakah orang tersayang disekeliling kita sanggup menghadapinya?

Durasi 4 menit·

"Klak, klak, klak" – suara ketikan menggema dari jemariku yang mulai terasa basah. Namun, aku sengaja tidak menghiraukan. Mataku terpaku tajam ke layar komputer, bibirku tertutup rapat, dan lutut serta keseluruhan kaki kanan mengayun ke atas dan bawah secara berulang. Kalau kata orang, ini namanya produktif

Kegiatan yang sama berulang. Kemarin, hari ini, besok, minggu depan dan seterusnya. Awalnya, aku merasa tidak ada yang aneh dan ya, produktif. Biasanya, sebelum rutinitas berulang ini dimulai, smartwatch menunjukan pukul 09.15 dan setelah selesai, wuuuuush, 16.35. Rasanya seperti teleportasi

Seperti biasa, aku bergegas pulang ke rumah ketika waktu sudah menunjukan pukul 5 sore supaya terhindar dari kondisi macet pasca maghrib. "Sip, driver udah otw" – ucapku sambil menunggu di halte depan kantor. Tidak lama kemudian, kisaran 15 menit sebelum driver sampai, ada notifikasi Whatsapp yang masuk ke Whatsapp dari salah satu teman lama

"Catch-up yuk" – sebut saja namanya Risa, teman lama sejak zaman kuliah. Saat ini, Risa bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan FMCG. "Eh, sekarang banget?", jawabku sambil sesekali melihat ke jalanan, khawatir driver sudah tiba. "Takutnya kalau di plan dulu malah ga jadi wkwkwk", jawab Risa

Jawaban Risa sangat masuk akal. Entah kenapa, seiring usia bertambah, merencanakan sesuatu terkadang terasa lelah, sedangkan hal yang spontan dan mendadak justru memacu adrenalin. Tanpa berfikir panjang, aku menyanggupi, dan kita janjian di sebuah kafe, 15 menit dari kost. Hari itu, keluar dari gedung kantor, sirkulasi darahku terasa memompa dengan kencang. "Sesekali, ganti suasana" – ucapku

Beberapa jam berlalu, aku dan Risa akhirnya bertemu. Tentu saja aku sudah mengenalnya sejak lama, namun pertemuan itu membuatku merasa seakan-akan bertemu teman baru. Padahal, di kantor, aku juga terbilang punya banyak teman hehe. Oke lanjut, pertemuanku dengan Risa pun berlangsung dan obrolan tentang kehidupan selama berjam-jam dimulai, disertai repeat order jajanan ringan yang tiada henti

"Bzzzzzz...bzzzzz" – smartwatch-ku bergetar dan menunjukan angka 10:00. "Sorryy, jadinya kemaleman gini" – ucap Risa. "Eh gapapa, this is fun . Sesekali lepas dari kerjaan muehehe", jawabku. Ekspresi Risa berubah dan dia berkata, "Bukannya lo suka banget kerja? haha". Aku mengerti Risa bermaksud baik, tapi pernyataan itu terasa menghujam bagiku. Jujur, bukan marah, tapi bingung

Selama ini, aku merasa produktif dalam pekerjaanku. Tapi, sahabat terdekatku berkata 'suka banget kerja'? bukankah itu tanggung jawab kita sebagai orang dewa– seketika pikiranku membeku. "Menurut lo gue suka banget kerja gitu, Ris?", balasku dengan sedikit terkekeh sambil mengunyah es batu dari orange juice yang sudah habis sejak lama. "Ituu IG lo sering banget posting kerjaan, bahkan foto profil WA lo aja foto bareng backdrop logo perusahaan. Ciee pura-pura merendah"

Seketika dunia terasa seperti slow motion (sorry lebay dikit) dan tubuhku otomatis mengeluarkan tawa yang menggelegar. Di ujung tawa itu, nada tinggi tiba-tiba menukik ke bawah dengan tajam. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi itu aneh. "Ya kaan? yaudah ah kuy caw pulang", Risa lalu berdiri, tubuhku juga secara otomatis ikut berdiri, dan kita saling berpamitan. Di balik itu semua, aku masih memproses, seperti robot, patung atau kucing yang menanti majikan

Itulah ceritaku, dan sekarang aku mengerti bahwa saat itu, Risa tidak berusaha menyinggungku. Namun, aku menjalani hidupku secara autopilot. Semua kerjaan selesai dengan baik, jadi Top Performer berturut-turut, sungguh luar biasa kan. Tapi, tahu nggak kenapa perkataan Risa terasa menghujam?

Ketika menulis ini, aku sudah lebih mengerti bahwa saat itu, dibalik seluruh pencapaian, aku telah kehilangan identitas dan memendam seluruh perasaan yang seharusnya dikeluarkan selama bertahun-tahun lamanya demi "yang penting kerjaan beres". Hal ini membuat emosi dan perasaan lain terpendam, sampai akhirnya ucapan Risa memantik bom waktu yang meledak, menimbulkan longsor hebat dan bola salju besar yang berputar menghantam diriku. Semua terjadi secara bersamaan

Kejadian itu membuatku mengulik konsep psikologi yang dikenal Snowball Effect. Intinya, apapun emosi yang dirasakan, harus dikeluarkan (atau diekspresikan) sedikit demi sedikit supaya tubuh kita bisa memproses satu per satu dan beradaptasi dengan baik

Sebaliknya, memproses emosi yang menumpuk pasti butuh waktu, energi dan jeda untuk adaptasi yang tidak sebentar. Apalagi kalau kita tipikal yang sangat sibuk, sudah pasti tidak ada waktu untuk memproses, dan khawatirnya berhujung ledakan yang lebih besar. Semoga tidak yaa!