Mengajarkan Anak Mengenal dan Melek Emosi Sejak Dini

Mengenalkan emosi kepada anak bagaikan berjalan di jalan beraspal yang panjang, masih basah dan berlika-liku

Durasi 3 menit·

Suatu hari di Minggu pagi yang cerah dan sedikit berawan, aku mengajak anakku yang masih belia untuk bermain ke playground di taman yang tidak jauh dari rumah

Awalnya, anakku sangat berapi-api dan sekejap berlari ke antara wahana permainan, meninggalkanku yang sedang terduduk di bangku. Genggaman yang awalnya erat, seketika dilepasnya dengan kecepatan melebihi cahaya. Sontak, aku menggelengkan kepala dan berkata "hati-hati yaa". Tidak ada balasan

Beberapa waktu berlalu, tiba-tiba, anakku menghampiri ke bangku. Air mukanya berubah, cemberut masam sambil melipat kedua tangannya. Sejujurnya aku tidak bisa menahan rasa gemas, tapi demi kebaikan bersama, aku akhirnya menahan, lalu bertanya "dek, kenapa? udahan mainnya?"

Secara visual, aku mengerti dia sedang kesal dan mungkin marah, namun aku sengaja tidak menyebut “kenapa marah?”, karena aku ingin mendengar ceritanya tanpa menebak-nebak

“Nggak tau” ucapnya dengan wajah yang memerah. Aku mengelus pundaknya, lalu bertanya “ada hal yang membuat adek merasa tidak nyaman?”

Dia tidak menjawab, namun ekspresinya berkata seribu bahasa. Jujur, aku mulai kebingungan. Anakku lalu menunduk dan aku hanya bisa membelai rambutnya dengan pelan. “Coba cerita aja, gapapa, mama dengerin”, ucapku

“Adek kesel”, anakku akhirnya menjawab. Aku masih bingung, tapi minimal ada kata ‘kesel’. Good start lah menurutku hehe

Singkat cerita, anakku akhirnya memegang tanganku, lalu melangkah ke arah jungkat-jungkit. Tangan kecilnya lalu memukul ke bagian kursi, berusaha memberitahuku

Rupanya, kursinya masih terlalu tinggi, dan sulit digapai oleh anakku. “Ohh, kursinya ketinggian ya dek?”, tanyaku. Anakku mengangguk. Hatiku berkata “YES!”

Buat temen-temen pembaca, ini sepele sih emang, tapi mengajarkan anak untuk mengenali perasaan mereka bukan hanya meminta mereka untuk tidak menangis atau marah, tetapi juga memberikan mereka ruang dan kesempatan untuk memahami diri mereka sendiri

Dalam kondisiku, aku nggak langsung bilang “dek jangan marah ya”, tapi aku menunggu, memberikan jeda, walaupun aku-nya sendiri juga kebingungan haha. But why?

Singkatnya, ketika anak diberikan ruang untuk menjelaskan emosi mereka —walau diksinya belum tepat—, itu adalah cara mereka belajar untuk berkomunikasi lebih baik dengan orang lain, sebagai bekal awal yang penting untuk kehidupan dewasanya kelak

Satu hal yang pasti: Nggak semua anak secara otomatis dapat memahami emosi mereka. Yes, banyak dari mereka yang merasa bingung atau bahkan malu untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Oleh karena itu, sebagai orang tua, aku rasa penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung (dimulai dari kita yang nggak nge-judge di awal, walau pasti capek)

Contoh lainnya, misalnya di rumah, kita bisa menggunakan berbagai metode untuk melatih anak dalam mengenali emosi. Misalnya, ketika menonton film, kita bisa bertanya, "Apa yang kamu rasakan saat tokoh itu sedih?" atau "Bagaimana jika kamu berada di posisi itu?" Pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu anak merenungkan dan memahami emosi yang ditampilkan.

Oh iya, ide lainnya yang bisa dicoba: Buat sebuah game sederhana, kayak bikin gambar atau menggunakan kartu emosi supaya anak bisa menjelaskan dan mengekspresikan perasaan mereka. Di toko ijo atau oren banyak hihi

Prosesnya tentu tak instan yaa, dibutuhkan kesabaran dan konsistensi. Kita sebagai orang tua harus siap untuk mendampingi anak-anak kita dalam perjalanan ini. Sama seperti saat kita di masa kecil dulu

Semangattt untuk sesama orang tua 💪