Menghadapi Rasa Jenuh dalam Pernikahan
Ada fenomena psikologis yang disebut Adaptasi Hedonis. Kita semua memiliki itu, namun, tidak semuanya menyadari sisi lainnya
Honeymoon phase sudah berlalu, dan kini, rutinitas yang sebelumnya terasa berwarna dan berbunga-bunga, pelan-pelan warnanya memudar. Dari luar, tidak ada yang berbeda. Namun, dari dalam perubahan itu sangat terasa. Apakah perasaan jenuh ini salah?
Itulah salah satu realita pernikahan yang jarang dibahas, yaitu ketika rasa jenuh muncul. Kita seringkali melihat gambaran pernikahan sebagai sebuah garis lurus: Semakin lama bersama, semakin kekal ikatan kasih sayangnya – gambaran ini tidak sepenuhnya salah
Namun, kenyataaan lain yang perlu diketahui adalah hubungan pernikahan menyerupai gelombang, ada masa tenang dan berombak. Perasaan jenuh adalah salah satu gambaran dari masa berombak yang seringkali tidak terlihat dan mudah disembunyikan diantara buih-buih lainnya. Di luar sana, ada pasangan yang bisa meredam rasa jenuh dan menjalaninya hingga akhir hayat, namun ada juga yang sebaliknya
Pertanyaannya, bagaimana jika aku tidak bisa menahan rasa jenuh ini lagi? apa yang bisa aku lakukan, dan kapan saatnya harus ke psikolog?
Jenuh ≠ cinta yang memudar
Secara psikologis, ada fenomena yang disebut dengan Adaptasi Hedonis, yaitu kecenderungan psikologis dimana seseorang mudah terbiasa dengan hal-hal baru di dalam hidupnya, seperti rutinitas pernikahan. Sisi positifnya, adaptasi hedonis adalah tanda bahwa otak kita bisa beradaptasi dengan sangat baik, namun sisi negatifnya, adaptasi ini memudarkan satu hal, yaitu curiosity atau rasa penasaran terhadap hubungannya, atau pasangannya
Memudarnya rasa penasaran bukan karena kekurangan dari pasangan kita (disini, peran adaptasi hedonis juga membuat membuat kita menerima dan menganggap kekurangan sebagai hal yang biasa), melainkan karena pola keseharian yang berulang dan mudah ditebak
Penelitian dari Arthur Aron (profesor dan psikolog dari New York University) menemukan bahwa hubungan pernikahan bertumbuh ketika kedua pasangan sama-sama mengalami hal baru. Entah itu karir, tempat tinggal, kehidupan bertetangga atau bahkan hubungan intim
Ketika perjalanan pernikahan dilalui dengan rutinitas yang sama, terlebih selama bertahun-tahun tanpa ada komunikasi dua arah yang terbuka, maka risikonya adalah rasa penasaran tadi justru memberontak dan mengarah ke hal-hal negatif, seperti kasus perselingkuhan yang sering kita baca di media
Jadi, kalau kamu lagi merasa jenuh, sebelum ke psikolog, lebih baik cerita jujur ke pasangannya dan coba hal baru bersama. Nah, kalau sudah berusaha jujur tapi ujungnya selalu bertengkar, mungkin itulah saatnya kamu dan pasangan (atau salah satu dulu) ke psikolog
Semoga tulisan ini bermanfaat yah!