Passion Burnout: Saat Hal yang Kita Suka Berubah Jadi Beban
Semua hal yang kita sukai bekerja layaknya obat, menenangkan dan menyembuhkan, tapi bukan tanpa efek samping
Jam menunjukan pukul sepuluh malam. Perlahan, suara kendaraan yang lalu-lalang mulai terkalahkan oleh deru mesin AC dan denting jam. Dunia sudah sunyi, namun tidak dengan kamar dan kepalaku. Hari itu, aku baru tiba di rumah pukul delapan malam karena kerjaan dan jalanan yang padat. Sehingga, aku pikir tidak ada salahnya untuk mengganti rasa lelah dengan begadang sebentar. Yah, mungkin 20 atau 30 menit? tidak terlalu lama bukan?
Seperti kebanyakan orang yang kecapekan habis pulang kerja karena jadi ikan pepes di KRL, agenda begadang diisi dengan scrolling dan lompat dari medsos ke medsos. Tidak ada yang salah, namun justru karena itu, aku menulis cerita ini supaya bisa jadi pengingat bahwa media sosial itu seperti obat. Menenangkan di awal, tapi selalu ada efek sampingnya
Dalam situasiku, ada dua efek samping. Pertama, tanpa disadari, ternyata aku scrolling selama hampir dua jam yang artinya kurang dari 6 jam lagi, aku harus berangkat kerja. Kedua, aku justru tidak bisa tidur karena kepalaku berisik dengan "kok hidupku gini-gini aja ya" di saat yang tidak tepat. Lagipula, ini juga salahku, menukar waktu tidur dengan kepo terhadap kehidupan si A si B. Arggh, cukup, ayo tiduuur (mengetuk dan geleng-geleng kepala)
Belajar dari pengalaman pribadiku, media sosial, atau hal apapun yang kita sukai, jika dilakukan tanpa batasan yang sehat, pasti ada efek sampingnya, baik burnout hingga perasaan tidak bersyukur, walau sebenarnya aku (dan kamu) sudah mencoba melakukan yang terbaik hingga mencapai titik yang sekarang. Pepatah "comparison is a thief of joy" ada benarnya juga
Lalu, apa yang kulakukan untuk menghadapi kondisi malam itu? tidak ada cara lain selain aku paksakan untuk tidur, walau bola mata berputar dibalik pejaman yang kuat, aku tidak mau kalah (ini 'kan tubuhku sendiri). Kemudian, di kantor, sambil terkantuk-kantuk aku berbagi cerita kepada teman terdekat dan secara perlahan, siklusnya kembali normal lagi, setidaknya untuk sementara waktu hehe
Iya, pikiran dan emosi bekerja di dalam siklus yang selalu berubah dan berputar. Itulah bagian normal dan abnormal dari menjadi manusia: Dalam diam sekalipun, kita tetap berubah (apalagi yang tiap hari bolak-balik commuting, ngejar deadline dan segala tetek bengeknya, tentu perubahannya lebih cepat)
Jadi, jangan terlalu memforsir diri sendiri yah. Semangat menerjang stasiun yang ramai itu, pagi dan sore, untuk kesekian kalinya (hmm, nasi padang Pagi Sore enak kali yah? ahaha)
Semoga tulisan ini bermanfaat. Terima kasih karena sudah membaca hihi 😁